Wednesday, March 29, 2017

Agama dan Negara


"BAIK ISLAM MAUPUN KRISTEN TIDAK DAPAT MENGKHAYALKAN NEGARA YG TERPISAH DARI AGAMA. KARENA JIKA NEGARA TERPISAH DARI AGAMA, HILANGLAH TEMPAT DIA DITEGAKKAN."

Pidato Ketua Umum MUI pertama, Prof. DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah itu disampaikan di hadapan para Pemuka Agama Kristen dan Aktifis Kristen, di Sekolah Tinggi Theologi Kristen Jakarta, pada 21 April 1970.

Menurut Hamka, Islam memandang bhw negara adlh penyelenggara atau pelayan/ khadam dr manusia. Sedangkan manusia adlh kumpulan dari pribadi2.
Maka tidak dapat tergambar dalam pemikiran bahwa seorang pribadi, karena telah bernegara, dia pun terpisah dengan sendirinya dari agamanya.

BERIKUT INI ADALAH ISI PIDATO SANG BUYA YANG DISAMPAIKAN DI HADAPAN PARA TOKOH KRISTEN:

"PAYAHLAH memikirkan bahwa seorang yang memeluk suatu agama, sejak dia mengurus negara, agamanya itu musti disimpannya.

Anggota DPR kalau pergi ke sidang, agamanya tidak boleh dibawa-bawa, musti ditinggalkannya di rumah.
Kalau dia menjadi menteri, selama Sidang Kabinet, agamanya musti diparkirnya bersama mobilnya di luar.
Dan kalau dia menjadi Kepala Negara, haruslah jangan memperlihatkan diri sebagai Muslim atau Kristen selama berhadapan dengan umum.
Simpan saja agama itu dalam hati. Nanti sampai di rumah baru dipakai kembali.

SAYA PERCAYA BAHWA CARA YANG DEMIKIAN HANYA AKAN TERJADI PADA ORANG-ORANG YANG MEMANG TIDAK BERAGAMA.
Sebab memang tidak ada pada mereka agama yang akan disimpan di rumah itu, atau diparkir di luar selama Sidang Kabinet.

Kalau dia seorang Muslim yang jujur atau seorang Kristen yang tulus, agama yang dipeluknya itulah yang akan mempengaruhi sikap hidupnya, di luar atau di dalam parlemen, di rumah atau di Sidang Kabinet, dalam hidup pribadi atau hidup bernegara.

Dia akan berusaha melaksanakan segala tugasnya bernegara, menurut yang diridhai oleh Tuhan yang dia percayai.
Dan dia akan menolong agamanya dengan kekuasaan yang diberikan negara kepadanya, menurut kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Begitulah dia, kalau dia Islam.
Begitulah dia, kalau dia Kristen."

BUYA HAMKA BERKESIMPULAN:

Seorang Kristen yang benar, tidaklah akan mau menerima gagasan, kalau dengan gagasan itu mereka diajak memisahkan kegiatan hidupnya dengan yg diajarkan oleh Isa Almasih.

Padahal, Almasih telah memerintahkan ummatnya untuk menegakkan Syariat Musa, dimana satu titik pun, satu noktah pun, tidak boleh diubah.

Jadi ketiga agama langit, yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani, sebenarnya merupakan agama Aqidah dan Syariat. Dimana pengikutnya wajib mentaati apa yg dituliskan dalam Aqidah, dan tidak boleh mengingkari apa yg diwajibkan oleh Syariat.

Buya Hamka menentang kemungkinan seseorang yg beragama Islam atau beragama Kristen, pada saat yg sama ia menjadi Sekular.

MENURUT HAMKA, NEGARA DAN AGAMA ADALAH SATU KESATUAN. Sehingga wajar dan bukan SARA jika umat Islam ingin dipimpin oleh pemimpin Islam, dan orang Kristen memilih pemimpin Kristen. Karena memang begitulah aturan di agama masing-masing.

-------

Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar.

Sunday, March 5, 2017

LOGIKA SEDERHANA IMAM HASAN AL-BANNA

LOGIKA SEDERHANA IMAM HASAN AL-BANNA

Hasan Al-Banna punya sebuah majelis taklim. Majelis ilmu itu dilaksanakan di sebuah masjid pada malam hari. Jama'ah. pengajian itu semakin hari semakin membludak saja. Maklum, tutur kata ustadz muda itu begitu menyentuh jiwa.

Suatu hari, Hasan Al-Banna merasakan adanya nuansa aneh di majelis taklimnya. Jama'ah pengajiannya duduk berkelompok. Ada dua kelompok besar. Masing-masing mengambil jarak.

Sebelum lagi Hasan Al-Banna memulai acara taklimnya, tiba-tiba sebuah pertanyaan mengejutkannya. Sebenarnya nada pertanyaan itu datar saja, tapi hati Hasan Al-Banna yang begitu peka menangkap sebuah pesan yang besar dalam pertanyaan itu.

"Bagaimana pendapat ustadz mengenai tawassul?" Sang guru yang ditanya terdiam sejenak. Ditatapnya si penanya. Disapunya satu per satu hadirin yang menatapnya dengan raut wajah menunggu.

"Wahai saudaraku," sapa Hasan Al-Banna jernih kepada si penanya. "Saya yakin engkau tidak hanya bertanya tentang tawasul saja. Engkau juga ingin bertanya tentang membaca salawat setelah azan, membaca Al Kahfi di hari Jumat, mengucap kata sayyidina dalam tasyahud, juga tentang membaca Alquran yang pahalanya ditujukan untuk mayit seseorang."

Jama'ah majelis taklim itu kaget. Guru mereka bisa membaca isi pikiran mereka. Dan Hasan Al-Banna memang sengaja mengungkap beberapa masalah khilafiyah yang sedang mereka ributkan. Masalah itulah yang membuat murid-muridnya duduk berkelompok-kelompok.

"Ya, benar. Saya memang ingin jawaban tentang itu semua," ujar si penanya tadi. Hasan Al-Banna menatapnya lembut. "Wahai saudaraku, saya ini bukan ulama. Hanya guru biasa yang hafal sebagian ayat-ayat Alquran, hadits, dan hukum-hukum agama yang saya baca dari beberapa kitab, lalu saya mengajarkannya kepada kalian. Jika engkau membawaku keluar dari lingkup itu, berarti kalian telah membuatku mengalami kesulitan," ungkap Hasan Al-Banna jujur.

"Oleh karenanya, jika apa yang akan saya katakan dapat memuaskanmu, itulah yang saya inginkan dan silakan mendengarkan. Namun, jika engkau menginginkan jawaban dan pengetahuan yang lebih luas, maka tanyakanlah kepada selainku. Tanyakan kepada para ulama yang ahli. Merekalah yang mampu memberikan fatwa kepadamu mengenai apa yang engkau inginkan itu. Adapun saya, hanya inilah kapasitas keilmuan yang saya miliki. Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sebatas kesanggupannya," lanjut Hasan Al-Banna.
Rupanya, ungkapan merendah Hasan Al-Banna itu berhasil mencairkan suasana kaku yang tercipta di antara hadirin. Mereka tampak lega dengan apa yang dikatakan guru mereka.
Melihatnya, diam-diam Hasan Al-Banna bertahmid kepada Allah swt. Nalurinya sebagai pendidik tergugah. Ini saat yang tepat untuk memberi pelajaran yang lebih kepada murid-muridnya.

"Wahai saudaraku sekalian, saya sebenarnya tahu betul kemana arah pertanyaan tadi. Kalian ingin tahu saya ini termasuk kelompok Syeikh Musa atau Syeikh Sami. Ketahuilah, hal ini sama sekali tak bermanfaat bagi kalian. Kalian sudah tenggelam dalam iklim fitnah selama selama delapan tahun ini. Itu sudah cukup, " ucap Hasan Al-Banna memecah di keheningan masjid.

"Masalah-masalah yang kalian perselisihkan sebenarnya sudah diperselisihkan oleh kaum muslimin selama ratusan tahun lamanya. Dan mereka masih saja berselisih. Meski demikian Allah swt. tetap ridha apabila kita saling mencintai dan saling menjalin persatuan. Allah swt. benci apabila kita berselisih dan berpecah belah. Oleh karena itu, saya berharap, kalian bisa berjanji kepada Allah untuk meninggalkan persoalan-persoalan semacam ini sekarang. Lalu kita bersungguh-sungguh untuk bersama-sama mempelajari dasar-dasar agama dan kaidah-kaidahnya, mengamalkan anjuran anjuran agama yang kita sepakati bersama, serta kita amalkan kewajiban-kewajiban dan sunah-sunahnya sekaligus. Kita tinggalkan sikap takalluf (mengada-ada) dan ta'ammuq (terlalu dalam menyelami persoalan) agar jiwa kita jernih. Dengan begitu, kita semua bisa mempelajari berbagai persoalan dalam naungan rasa cinta, saling percaya, persatuan, dan keikhlasan. Saya berharap agar kalian dapat menerima pendapatku ini dan agar hal ini menjadi suatu janji di antara kita," tutur Hasan Al-Banna panjang dan mendalam. Semua terdiam. Tampaknya mereka butuh contoh konkret atas uraian tadi.

Hasan Al-Banna kembali menghentak keheningan itu.

"Siapa di antara kalian yang bermazhab Hanafi?" Seseorang mengacungkan jari. "Kemari!"

"Siapa di antara kalian yang bermazhab Syafi'i?" Satu orang lagi maju, mendekat ke guru muda itu.

"Saya akan shalat dan mengimami kedua saudara kita ini," kata Al-Banna kepada jama'ah majelis taklimnya.

"Apa yang kamu lakukan saat saya sedang membaca Al-Fatihah?" tanya Hasan Al-Banna kepada muridnya yang mengaku bermazhab Hanafi. "Saya akan diam saja dan tidak membaca apa-apa."

"Saudaraku yang bermazhab Syafi'i, apa yang kamu lakukan?" "Saya tetap harus membaca AlFatihah!" jawabnya tegas. Hadirin mendengar jawaban kedua itu.

Hasan Al-Banna kembali melemparkan pertanyaan. "Jika kita telah selesai shalat, bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Syafi'i, tentang shalat saudaramu yang bermazhab Hanafi?"

"Shalatnya batal karena tidak membaca AlFatihah yang merupakan salah satu rukun shalat."

Hasan Al-Banna melontarkan pertanyaan yang sama ke murid yang satunya lagi. "Lalu bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Hanafi tentang shalat saudaramu yang bermazhab Syafi'i?". "Ia telah melakukan tindakan makruh yang bersifat haram."

Mendengar kedua jawaban itu, Hasan Al-Banna segera mempertajam pertanyaannya. "Apakah karena alasan itu salah seorang dari kalian mengkafirkan yang lain?" "Tidak!" jawab keduanya cepat.

Hasan Al-Banna kemudian berpaling ke seluruh hadirin. "Apakah ada di antara kalian yang mengkafirkan satu dari mereka karena bacaan Al-Fatihahnya?" .

Tidak," kata seluruh jamaah majelis taklim tegas.

"Aduhai, Maha Suci Allah. Kalian bisa diam dan memaklumi permasalahan seperti ini padahal ini menyangkut sah atau batalnya shalat. Tapi, mengapa kalian berselisih tak kunjung usai hanya karena ucapan Allahumma shalli `ala Muhammad atau Allahumma shalli `ala sayyidina Muhammad dalam tasyahud?"

Jama'ah majelis taklim itu tercengang. Ya, mengapa mereka bisa terjebak dalam perselisihan yang tak perlu.

Dan logika sederhana guru mereka telah membongkar tempurung yang menutupi cakrawala berpikir mereka selama ini. Malam itu mereka mendapat pelajaran yang sangat berharga dari guru mereka, Hasan Al-Banna.

#memoar hasan albanna

Sunday, January 29, 2017

Katena Islam Dianggap Selalu Salah

*POKOKNYA SALAH, TIDAK USAH NGEYEL!*
Ust. Choirul Anam

Di zaman demokrasi seperti sekarang, memeluk agama apapun itu hak dan tentu saja pilihan bebas. Bahkan beragama dianggap sbg hak asasi paling fundamental.

Termasuk memeluk agama Islam atau yg lain. 1000% bebas. Meski memeluk Islam itu bebas, tapi menjalankan Islam itu tidak bebas. Islam hanya boleh dijalankan yg berkaiatan dg masalah privat, tetapi tdk dlm masalah yg lain.

Jika ada yg melaksanakan Islam dlm urusan non privat, maka itu salah dan merupakan pelanggaran hukum.

Umat Islam boleh sujud semalam sampai keningnya hitam, atau baca alquran sampai khatam setiap hari. Tapi jangan coba-coba bawa SATU ayat saja dalam kehidupan nyata. Haramnya pemimpim kafir mmg ajaran Islam, tp jangan sekali-kali disampaikan apalagi jadi sikap dlm menentukan langkah hidup. Itu pelanggaran yg teramat keras dlm demokrasi.

Pokoknya, jika umat Islam bicara Islam, apalagi syariah Islam, apalagi Khilafah Islam, apalagi sok-sokan bela Islam, maka itu salah, kuno, fanatik, berbahaya, intoleran, tak berpendidikan, garis keras, brutal, kolot, seabrek gelar lainnya.

Bahkan, menutup aurat menurut Islam saja, sudah dianggap berbahaya dan disuruh pindah ke Arab. Boleh pakai baju tapi tdk boleh ada nuansa Islamnya, apalagi berdasarkan Islam. Kalau ada nuansa yg lain, seperti barat atau cina tdk apa-apa karena itu berarti go international.

Mengatur rambut (yg tumbuh di mana pun) itu bebas. Tapi jangan sampai berjenggot sesuai Islam. Itu berbahaya dan bisa jadi delik terorisme. Boleh manjangin jenggot, tapi tubuh harus ditato. Nah itu baru keren. Itu baru taat hukum.

Menyampaikan pendapat itu bebas. Tapi tdk boleh ada kaitannya dg Islam. Bicara Islam itu dianggap monopoli kenenaran, sok suci dan patut diwaspadai. Tapi kalau mengkritik Islam, itu baru kritis, intelektual, punya nalar, berwawasan terbuka.

Nulis tauhid di bendera, wah itu penghinaan berat negara. Itu menusuk rasa kebangsaan terdalam. Itu penodaan yg sangat fatal. Kalau nulis selainnya, itu berarti sangat cinta Indonesia. Itu berarti terjadi perpaduan harmonis antara nasionalisme dan kreativitas. Apa yg dilakukan Slank, misalnya, adalah contoh musisi dg rasa cinta tanah air yg luar biasa.

Sudah, pokoknya umat Islam yg bicara Islam di ruang publik itu salah dan pelanggaran hukum. Tidak usah ngeyel.

Kalau tdk terima, silahkan protes. Bawa jutaan umat ke monas. Tak ada pengaruhnya. Mau ngadu, ya sudah ngadu saja ke Tuhan yang katanya Maha Mendengar.

*****
Begitulah demokrasi. Jika kemarin, demokrasi masih malu-malu menampakkan wajah, sekarang demokrasi menampakkan wajah aslinya.

Demokrasi selalu bersembunyi dibalik nama rakyat, sekarang wajah aslinya tampak. Demokrasi hanyalah mengabdi kepada pemilik modal. Jutaan rakyat boleh protes, tapi keinginan tuan reklamasi pantai tdk boleh terusik.

Menghadapi wajah asli demokrasi yg sangat mengerikan memang tidak ringan. Tapi bagaimanapun, tetap lebih baik srigala berwajah srigala, sehingga kita menjauhinya, daripada srigala berwajah domba.

Kita sekarang ditakdirkan Allah menghadapi srigala dalam wujudnya aslinya.

Memang tidak ringan. Semoga Allah melindungi kita semua. Insya Allah hari-hari yang di nanti semakin dekat waktunya.

والله اعلم بالصواب

Thursday, November 10, 2016

Para Pendemo adalah Pemecah Belah Bangsa?

*Para Pendemo adalah Pemecah Belah Bangsa?*

Pada awal Januari tahun 1918, surat kabar harian bernama "Djawi Hisworo" pernah muncul suatu artikel yang berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Artikel tersebut ditulis oleh Djojodikoro, berjudul "Pertjakapan Antara Martho dan Djojo". Artikel itu memuat kalimat bertuliskan,

"Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem AVH, minoem opium, dan kadang soeka mengisep opium."

Kalimat itu secara jelas menuduh Nabi SAW adalah pemabuk dan suka mengonsumsi opium. Sontak, artikel tersebut mendapat reaksi besar dari masyarakat Muslim waktu itu. Salah satu tokoh Islam, yaitu H.O.S Tjokroaminoto bahkan segera membentuk organisasi bernama Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM). Struktur TKNM ini terdiri dari

Ketua : HOS Cokroaminoto
Bendahara: Syekh Roebaja bin Ambarak bin Thalib
Sekretaris : Sosrokardono

Setelah dibentuk, TKNM menyeru kepada masyarakat Indonesia untuk menghadiri perkumpulan besar yang berlokasi di Kebun Raya Surabaya pada 6 Februari 1918. Perkumpulan ini diadakan sebagai sikap kaum muslim terhadap penghinaan Nabi SAW.

Tahukah berapa kaum muslim yang ikut dalam aksi tersebut? Tidak kurang dari 35.000 orang! Tuntutannya hanya 1, yaitu mendesak pemerintah Hindia Belanda dan Sunan Surakarta untuk segera mengadili Djojodikoro dan Martodarsono (pemilik surat kabar) atas kasus penistaan Nabi SAW.

Di waktu itu, media tidak seperti sekarang. Tidak ada sosial media facebook, twitter, dan tidak ada TV. Radio pun hanya segelintir orang yang punya. TNKM hanya bermodalkan pesan lisan dan media seleberan kertas untuk mengumpulkan massa sebesar itu. Dan tentunya tidak ada bayaran atau nasi bungkus untuk mengumpulkan mereka. Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya kemarahan masyrakat Muslim Indonesia mengetahui Nabi mereka dihina.

========================

Belajarlah sejarah lebih banyak lagi jika masih bilang aksi bela Qur'an adalah upaya memecah belah bangsa. H.O.S Cokroaminoto adalah pahlawan nasional yang tidak diragukan lagi jasanya dalam perjuangan pra-kemerdekaan Indonesia.

Jadi beranikah anda bilang H.O.S Cokroaminoto adalah penebar isu sara.? Beranikah anda bilang beliau berusaha memecah belah bangsa.? Beranikah anda bilang 35.000 massa yang berkumpul di tahun 1918 itu adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti  makna toleransi.?

Kalau anda berani, bisa jadi justru anda yang penebar isu sara, andalah yang memecah belah bangsa dan anda mungkin termasuk orang bodoh yang tidak tahu toleransi.

~ Ahmad Ghilman
diambil dari buku "Jang Oetama : Jejak Perjuangan H.O.S Tjokroaminoto" karya A.D Mulawarman

Risalah Jogja

RISALAH JOGJA

Dalam silaturrahim ummat sebagai tindak lanjut gerakan bela Al Quran, perwakilan berbagai unsur keummatan di Yogyakarta yang berkumpul di Masjid Jogokariyan pada Kamis 10 November 2016 telah berkoordinasi dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI.

KH Bachtiar Nashir selaku Ketua GNPF MUI dari Jakarta melalui telepon menyampaikan agar kita terus menjaga semangat dan kewaspadaan. Aksi Damai Bela Islam Jilid III tetap akan kita selenggarakan dengan tema besar 'BELA AL QURAN'. Waktu pelaksanaan akan ditentukan saat habisnya tenggat waktu 2 pekan (18 November 2016) dengan terus mencermati perkembangan penanganan kasus penistaan Al Quran.

Aksi Damai ini harus terus dimurnikan sebagai pembelaan terhadap Al Quran dari berbagai isu lain yang membelokkannya, bahkan adu domba antar ummat Islam mungkin akan terjadi dengan demonstrasi lain dengan isu lain. Tapi kita akan tetap istiqamah insyaallah.

Jangan sampai euforia kesuksesan kecil setelah Aksi Bela Islam Jilid II kemarin melemahkan kita seperti terjadi pada Perang Hunain setelah Fathu Makkah. Maka risalah ini menyerukan:

1. Mari ajak seluruh ummat menjaga dan merutinkan tilawah Al Quran. Jadikan kemesraan dengan Al Quran sebagai sumber kekuatan keyakinan, fikrah, dan akhlaq perjuangan kita.

2. Mari ajak seluruh ummat menghayati kandungan makna Surat Al Maidah. Kepada para Ustadz, Guru, dan 'Alim-'Ulama agar menyampaikan kajian tafsir Surat Al Maidah di majelis-majelisnya.

3. Mari ajak seluruh ummat menyemarakkan Gerakan Shalat Berjama'ah di Masjid, sebagai sarana dasar menyatukan langkah dan hati.

4. Ke depan, akan makin banyak yang berkepentingan untuk menunggangi perjuangan kita. Jangan terpancing, jangan melawan dengan melawan, lawan dengan bertahan. Tetaplah bertahan pada syi'ar kita: "Hukum Penista Al Quran dan Pelindungnya!"

5. Teruslah menguatkan komunikasi dan sinergi antar anasir ummat, rapikan koordinasi di bawah komando GNPF MUI, jalin ukhuwah, perbanyak kawan dan sedikitkan lawan.

Dirumuskan di Masjid Jogokariyan, 10 November 2016 pukul 22.30 WIB

Wednesday, November 9, 2016

Ancaman kepada Para Pendukung Ahok

Oleh: Rokhmat S. Labib (Ketua DPP HTI)_

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
_Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan_ (QS Hud [11]: 113).

  Dalam ayat ini ditegaskan, kaum Mukmin dilarang merasa ridha, senang, dan condong terhadap pelaku semua jenis kezhaliman itu. Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, _al-Jami' li Ahkam al-Qur'an_ mengutip beberapa penjelasan para ahli tafsir tentang makna _al-rukûn_. Qatadah berkata, "Artinya, janganlah kalian mencintai dan menaati mereka." Ibnu Juraih berkata, "Janganlah condong atau cenderung kepadanya." Abu al-Aliyah berkata, "Janganlah kalian meridhai perbuatan mereka."

Ditegaskan Imam al-Quruthubi semua pengertian itu saling berdekatan satu sam alain.

Menurut Abu Hayan al-Andalusi dalam tafsirnya, _al-Bahr al-Muhîth_, makna al-rukûn adalah al-mayl _al-yasîr_ (kecenderungan ringan). Ini berarti setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezahliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan.

Ungkapan  _al-ladzîna zhalamû_ kian mengukuhkan ketentuan tersebut. Sebab, ungkapan _al-ladzîna zhalamû_ (orang yang berbuat dzalim) lebih ringan daripada _al-zhâlimîn_ (orang yang dzalim). Jika kepada orang yang berbuat zhalim saja sudah dilarang
cenderung kepadanya, lebih-lebih kepada orang-orang yang sudah terkatagori zhalim.

Al-Zamakhsyari memaparkan beberapa perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai cenderung kepada pelaku perbuatan zhalim. Di antaranya adalah tunduk kepada hawa nafsu mereka, bersahabat dengan mereka, bermajelis dengan mereka, mengunjungi mereka, bermuka manis dengan mereka, ridha terhadap perbuatan mereka, menyerupai mereka, dan menyebut keagungan mereka.

Menurut al-Qurthubi larangan ini juga sejalan dengan firman Allah Swt:
وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
_Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu]_ (QS al-An'am [6]: 68) 

Perbuatan zhalim itu yang tidak boleh diridhai tidak hanya berlaku terhadap kaum Musyrik, namun berlaku umum. Demikian penegasan al-Syaukani dalam tafsirnya _Fath al-Qadîr_. Termasuk pula di dalamnya terhadap tindakan dan perilaku zhalim penguasa.

Larangan cenderung kepada pelaku kezhaliman itu terkatagori haram. Sebab, orang yang mengerjakannya diancam dengan sanksi yang amat berat, yakni disentuh dengan api neraka. Allah Swt berfirman: _fatamassakum al-nâr_ (menyebabkan kamu disentuh api neraka).

Tak hanya itu, mereka diancam tidak akan mendapat penolong. Allah Swt berfirman: _Wamâlakum min dûniLlâh min awliyâ' tsumma lâ tunsharûn_ (dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan).

Bertolak dari ayat tersebut dan penjelasan para ulama, maka sikap ridha dan senang, apalagi mendukung Ahok merupakan perbuatan terlarang yang diancam dengan neraka.

Betapa tidak, dengan sangat angkuh dia menyebut orang-orang yang dibodohin pakai QS al-Maidah 51 dan macem-macem. Ini sungguh penghinaan yang luar biasa. Bagaimana mungkin al-Quran yang berasal dari Allah Swt disebut sebagai alat pembodoh!

Ketika diminta untuk maaf karena telah menghina al-Quran, dengan sombong dia menyebut bahwa yang dia maksudkan adalah orang-orang rasis dan pengecut yang membodohi orang untuk tidak memilih dirinya dengan menggunakan surat al-Maidah 51.

Sungguh ini melecehkan para ulama. Padahal para ulama hanya menyampaikan salah satu ketentuan hukum Allah Swt bahwa haram memilih dan mengangkat orang kafir sebagai pemimpin.

Perkara ini telah menajdi ijma' (kesepakatan) para ulama.

Al-Qadhi Iyadh _rahimahullah_ berkata:
أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْإِمَامَةَ لَا تَنْعَقِدُ لِكَافِرٍ وَعَلَى أَنَّهُ لَوْ طَرَأَ عَلَيْهِ الْكُفْرُ انْعَزَلَ
_Para ulama telah sepakat bahwa kepemimpinan tidak sah bagi orang kafir; dan menjadi kafir  (murtad), maka diberhentikan_ (Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, vi/315).

Ibnul-Mundzir _rahimahullah_ berkata :
أجمع كل من يحفظ عنه من أهل العلم أن الكافر لا ولاية له على مسلم بحال
_"Para ulama telah bersepakat bahwa orang kafir tidak boleh diserahi kekuasaan atas muslim dalam keadaan apapun"_ (Ahkaamu Ahlidh-Dhimmah, hal. 237).

Jika mendasarkan pernyataan Ahok, berarti para ulama mu'tabar itu adalah orang-orang yang rasis dan pengecut. Sungguh penghinaan yang luar biasa!

Wahai para pendukung Ahok, tidak adakah rasa marah ketika al-Quran dihina dan dinista?

Tidakkah Anda merasa terhina ketika para ulama yang menyampaikan al-Quran dengan benar dilecehkan serta dituduh rasis dan pengecut?

Jika perasaan itu tidak ada, sebaliknya Anda tetap ridha dan terus membela pelakunya, maka bersiaplah Anda mendapatkan siksa yang amat pedih di neraka.

*_Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb_*

Tuesday, November 8, 2016

Salutnya Siauw

Ustadz Felix Siauw
Saya Salut Pada Mereka

Terus terang, mengikuti berita akhir-akhir ini, saya sangat salut kepada orang-orang yang masih membela penista Al-Quran, atau yang cenderung pada penista Al-Quran itu

Saya salut pada pimpinan penegak hukum yang dari awal terkesan kuat sangat cenderung kepada penista Al-Quran, seolah menjadi jurubicaranya, mengarahkan opininya

Saya salut pada yang disebut-sebut cendekiawan namun tak terusik ketika Al-Quran dilecehkan, dengan berbagai argumen palsu mengalihkan ummat dari kebenaran

Saya salut pada pimpinan pemerintahan yang mencari pembenaran lari dari tugas, lari dari rakyat, lari dari kebenaran, lari dari agama, kemudian menuduhkan ini dan itu

Saya salut pada yang yang katanya "ulama", tapi sama sekali tak ada takutnya kepada Allah, dekatnya dengan pemilik uang, lisannya tak cenderung kepada Islam dan Muslim

Saya salut pada mereka yang berpeci dan berkoko, berkerudung dan berjilbab, tapi senantiasa punya fitnah untuk mereka yang mencintai Al-Quran dan As-Sunnah

Saya salut pada mereka yang selalu menyebut Al-Quran dan As-Sunnah, tapi justru melarang aksi #BelaQuran, tidak hanya itu, juga nyinyir, meleceh dan melucah pasca aksi itu

Saya salut pada reporter dan jurnalis yang turun saat aksi, tapi gagal mendapatkan kebaikan-kebaikan yang tumpah ruah, dan bisa menemukan setitik salah dan alpa

Salut! Mereka bilang, perkataan penista Al-Quran tidak ada indikasi penistaan, mereka anggap jutaan Muslim yang aksi kemarin semua salah dengar, semua bodoh akalnya

Salut! Mereka bilang semua aksi kemarin diprovokasi Buni Yani dan salah transkripnya, seolah jutaan Muslim lain tak bisa memahami video Bahasa Indonesia tanpa transkrip

Salut! Mereka bisa membohongi hati, menutup nurani, tuli terhadap nasihat, angkuh dihadapan ulama, keras didepan kebenaran. Padahal semua sudah nyata-nyata

Salut! Mereka masih menyangka semua peserta aksi 411 kemarin adalah bayaran, demi nasi bungkus, membuat banyak kerusakan, dan berniat anarkis

Selamat buat anda semua yang diatas, kini ummat bisa melihat sebab anda semua sudah menunjukkan jati diri, hingga kami tau siapa anda, dan apa yang anda banggakan....