Sunday, April 24, 2016

Taufik Ismail ttg Komunis

PUISI ANTI KOMUNIS TAUFIK ISMAIL: http://www.nbcindonesia.com/2016/04/dianggap-provokator-taufik-ismail.html

Rabu 20 April 2016 lalu, penyair nasional Taufik Ismail mengumandangkan puisinya di Seminar-Symposium di Hotel Aryaduta Jakarta tentang PKI, dan di luar dugaan pesertanya, beliau menyerang Komunisme, kekejaman pembantaian-pemberontakan oleh PKI ... DAN langsung diteriaki peserta! ... Dan diusir! ... Hanya di rezim Jokowi ini, Komunis dibiarkan bersuara, sementara sesuai Tap MPR RI, Komunis dilarang ... Dan RI dibawa semakin mesra dengan negara Komunis RRC.

Ini dia PUISINYA:

Dua orang cucuku, bertanya tentang angka-angka

Datuk-datuk, aku mau bertanya tentang angka-angka

Kata Aidan, cucuku laki-laki

Aku juga, aku juga, kata Rania cucuku yang perempuan

Aku juga mau bertanya tentang angka-angka

Rupanya mereka pernah membaca bukuku tentang angka-angka dan ini agak mengherankan
Karena mestinya mereka bertanya tentang puisi

Tetapi baiklah,
rupanya mereka di sekolahnya di SMA ada tugas menulis makalah

Mengenai puisi, dia sudah banyak bertanya ini itu, sering berdiskusi

Sekarang Aidan dan Rania datang dengan ide mereka menulis makalah tentang angka-angka

Begini datuk,
katanya ada partai di dunia itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian kata Aida dan Rania, ya..ya..120 juta orang yang dibantai

Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian cucuku bertanya

Datuk-datuk, kok ada orang begitu ganas..?

Kemudian dia bertanya lagi,
kenapa itu datuk? Mengapa begitu banyak?

Mereka melakukan kerja paksa, merebut kekuasaan di suatu negara

Kerja paksa

Kemudian orang-orang di bangsanya sendiri berjatuhan mati

Kerja paksa

Kemudian yang ke dua

Sesudah kerja paksa,
program ekonomi diseluruh negara komunis tidak ada satupun yang berhasil

Mati kelaparan, bergelimpangan di jalan-jalan

Kemudian yang ketiga, sebab jatuhnya Puisi ini

Sebabnya adalah mereka membantai bangsanya sendiri,

Mereka membantai bangsanya sendiri

Di Indonesia

Pertamakali di bawa oleh Musso, di bawa Musso.

Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian.

...

Terputus ... Karena Taufik Ismail diusir oleh panitia Symposium PKI Rabu 19 April 2016 di Hotel Aryaduta Jakarta.
http://kenisah.blogspot.com

Saturday, April 9, 2016

Anti Teroris Pesanan Asing

Din Syamsudin Yakin Program Deradikalisasi adalah Proyek Amerika Serikat
Sabtu, 9 April 2016 - 09:18 WIB

Hidayatullah.com – Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Din Syamsudin mengatakan, dirinya yakin bahwa program deradikalisasi yang dicanangkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merupakan proyek dari kepentingan asing.

"Saya sampai saat ini masih meyakini program deradikalisasi adalah proyek Amerika Serikat," ujarnya dalam pengajian bulanan Pengurus Pusat Muhammadiyah bertema "Pemberantasan Terorisme yang Pancasilais dan Komprehensif"di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jum'at malam, (08/04/2016).

Ia bercerita, beberapa waktu lalu, pihaknya pernah dipertemukan dengan pejabat dari Gedung Putih (pemerintah Amerika Serikat) di Bogor. Yang mana pada pertemuan tersebut, kata Din, mereka berusaha meyakinkan Muhammadiyah agar mau mendorong dan mendukung program deradikalisasi.

Namun, ia dan Muhammadiyah berkeyakinan, bahwa deradikalisasi bukan cara yang tepat dalam memberantas terorisme.

"Tetapi deradikalisasi selama ini menempuh jalan yang keliru, bukan kemudian menghilangkan radikalisme itu, tapi deradikalisasi justru mengambil bentuk radikalisme baru," jelas Din.

Presiden Asian Conference of Religions for Peace (ACRP) ini beranggapan, program deradikalisasi memandang terorisme hanya dari kacamata ideologi yang mengarah pada satu agama tertentu.

"Jika hanya menekankan fokus pada satu faktor tunggal, yakni idologi, apalagi disangkutkan pada keagamaan, saya kira dengan analisa kacamata kuda seperti ini kita akan kehilangan arah dalam pemberantasan terorisme," tukasnya.

Padahal, menurut Din, ada faktor lain yang mempengaruhi tindak terorisme. Yakni faktor non agama seperti kesenjangan, ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik, baik tingkat global maupun regional.

Presiden ACRP: Penanganan Teroris Bermasalah Karena Justru Membentuk Terorisme Baru

Termasuk juga, lanjutnya, adanya faktor penunggangan yang memanfaatkan elemen radikal minoritas, yang membuat mereka terdorong dan tergerak melakukan aksi-aksi kekerasan.

"Dari literatur yang saya baca, ada faktor penunggangan tersebut baik tingkat global maupun nasional di banyak negara. Tentu ini adalah tujuan untuk mendeskreditkan Islam, inilah yang kita tolak," ungkap Din.

Ia menegaskan, Muhammadiyah jauh sebelum ada BNPT sudah terlibat dalam gerakan untuk menanggulangi terorisme, dengan mengutamakan Islam yang rahmatan lil alamin.

Untuk itu, Din berharap program deradikalisasi untuk direvisi agar jangan justru mengambil bentuk radikalisme baru.

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor: Cholis Akbar
http://kenisah.blogspot.com

Monday, March 14, 2016

Islam dari china

Habibie:
Hadiah Terbesar Bangsa Cina ke Indonesia adalah Islam


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --

Presiden ketiga RI BJ Habibie menjelaskan mengenai awal kehadiran Islam di nusantara. Menurut dia, Islam datang ke Indonesia dan diperkenalkan pertama kali lewaat bangsa Cina, melalui laksamana Cheng Ho.

"Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam," kata Habibie ketika memberikan ceramahnya di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta, Jumat (29/8). 

Habibie menjelaskan, Islam lahir 14 Abad silam. Saat itu, Islam memang belum sampai ke jazirah Tiongkok. Baru ketika jalur perdagangan dibuka 700 tahun kemudian Islam sampai di Cina. Kemudian, Laksamana Cheng Ho datang ke Nusantara membawa misi damai dan Islam pun dikenal masyarakat Indonesia ketika itu. 

"Ini yang sering saya katakan ketika saya bertemu siapa pun, termasuk tokoh dunia. Ketika saya ke Cina, saya diberitahu, umat Islam yang saya temui inilah orang-orang yang memperkenalkan Islam kenegara Anda," kata dia.

"Saya bilang ke pimpinan Beijing, saya bilang ke pimpinan Jerman, agama Islam datang ke Indonesia damai bukan peperangan," kata dia. 

Sejarah perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari jasa Walisongo (Wali Sembilan). Banyak versi mengenai kisah para wali ini, salah satunya versi yang menyatakan mereka berasal dari Cina.

Tahun 1968, Profesor Slamet Mulyana menulis versi yang tidak populer itu dalam bukunya "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara", namun dilarang beredar karena dinilai dapat memicu perdebatan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antaragama).

Menurut Mulyana, orang yang mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa, yakni Chen Jinwen atau yang lebih dikenal dengan Raden Patah/Fatah alias Panembahan Tan Jin Bun/Arya (Cu-Cu). Ia adalah pendiri kerajaan Demak di Jawa Tengah.

Walisongo dibentuk oleh Sunan Ampel pada tahun 1474. Mereka terdiri dari sembilan orang wali; Sunan Ampel alias Bong Swie Ho, Sunan Drajat alias Bong Tak Keng, Sunan Bonang alias Bong Tak Ang, Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang, Sunan Gunung Jati alias Du Anbo-Toh A Bo, Sunan Kudus alias Zha Dexu-Ja Tik Su, Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/ Tan Eng Hoat, dan Sunan Giri yang merupakan cucu dari Bong Swie Ho.

Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias Raden Rahmat lahir pada tahun 1401 di Champa (Kamboja). Saat itu, banyak sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim bermukim di sana. Ia tiba di Jawa pada 1443. Tiga puluh enam tahun kemudian, yakni pada 1479, ia mendirikan Mesjid Demak.

Belanda, yang sempat 'berperang' dengan para wali itu sempat tidak mempercayai bahwa sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa. Untuk memastikannya, pada 1928, Residen Poortman ditugaskan oleh pemerintah Belanda untuk menyelidikinya. Poortman lalu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan menyita naskah berbahasa Tionghoa. Ia menemukan naskah kuno berusia ratusan tahun sebanyak tiga pedati.

Arsip Poortman ini dikutip oleh Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial, Tuanku Rao. Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini. Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dalam Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun, yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun.
Kata Jin Bun (Jinwen) dalam dialek Hokkian berarti 'orang kuat'. Cucu Raden Patah, Sunan Prawata atau Chen Muming/ Tan Muk Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak. Ia berambisi meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa menjadi "Segundo Turco" (seorang Sultan Turki ke II), sebanding sultan Turki Suleiman I dengan kemegahannya.

Kata Walisongo yang selama ini diartikan sembilan (sanga/songo) wali, ternyata masih memberikan celah untuk versi penafsiran lain. Ada yang berpendapat bahwa kata 'sanga' (dilafalkan sebagai 'songo' dalam Bahasa Jawa) berasal dari kata 'tsana' dari bahasa Arab, yang berarti mulia.

Pendapat lainnya menyatakan kata 'sanga' berasal dari kata 'sana' dalam bahasa Jawa yang berarti tempat.

Kata Sunan yang menjadi panggilan para anggota Walisongo, dipercaya berasal dari dialek Hokkian 'Su' dan 'Nan'. 'Su' merupakan kependekan dari kata 'Suhu atau Saihu' yang berarti guru. Disebut guru, karena para wali itu adalah guru-guru Pesantren Hanafiyah, dari mazhab Hanafi. Sementara 'Nan' berarti berarti selatan, sebab para penganut aliran Hanafiah ini berasal dari Tiongkok Selatan.

Perlu diketahui juga bahwa sebutan 'Kyai' yang kita kenal sekarang sebagai sebutan untuk guru agama Islam, dulu digunakan untuk memanggil seorang lelaki Tionghoa Totok, seperti pangggilan 'Encek'. Dan, sadar atau tidak, baju muslim yang kerap digunakan oleh laki-laki muslim Indonesia sangat mirip dengan pakaian ala China. Baju Koko dan penutup kepala putih dianggap berasal dari China, karena di negeri asal Islam, Timur Tengah, pakaian ini tidak dikenal.

Sangat dimungkinkan bahwa cerita ini mengandung kebenaran ( walaupun mungkin tidak semua Walisongo dari Cina ), karena saat itu penduduk lokal Jawa adalah masih Hindu-Buddha dan tentunya apabila ada suatu kebudayaan baru yang masuk maka pastilah dibawa oleh pendatang dari luar. Mengingat bahwa saat itu Cina sudah menjelajah ke berbagai belahan dunia termasuk di tanah Jawa maka dimungkinkan salah satu dari mereka adalah pembawa syiar agama Islam tersebut. 

Sumber:
* D. A. Rinkes "De heiligen van Java"
* Jan Edel "Hikajat Hasanoeddin"
* B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang
* Utrecht: Den Boer – G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
* De Graaf and Pigeaud "De eerste Moslimse Vorstendommen op Java"i
* "Islamic states in Java 1500 -1700?.
* Amen Budiman "Masyarakat Islam Tiongkok"
http://kenisah.blogspot.com

Thursday, March 3, 2016

Kisah Nyata (?)

AL-QUR'AN DAN SANG JENDERAL
(diangkat dari kisah nyata)

Suatu sore pada tahun 1525, penjara tempat orang tahanan terasa hening mencengkam. Jenderal Adolf Roberto, pemimpin penjara yg terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah² ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yg fanatik ... itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara² Ayat Suci yang amat ia benci.
"Hai ... hentikan suara jelekmu! Hentikan!!!" teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi? Laki² di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dg khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg luasnya tak lebih sekadar cukup untuk 1 orang.

Dg congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yg keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dg rokoknya yg menyala.

Sungguh ajaib ... tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yg pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan pada sang algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih, "Rabbi, wa-ana 'abduka."

Tahanan lain yg menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz ... Insyaa Allah tempatmu di Syurga."
Melihat kegigihan orang tua yg dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya.

Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras² hingga terjerembab di lantai.
"Hai orang tua busuk!! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yg berhubung dg agamamu!!"

Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh ... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yg amat kucintai, Allah Subhanahu wa ta'ala ... Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yg amat bodoh."

Baru saja kata² itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki² itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dg wajah bersimbah darah.

Ketika itulah dari saku baju penjaranya yg telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat².

"Berikan buku itu, hai laki² dungu!" bentak Roberto.
"Haram bagi tanganmu yg kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dg tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari² tangan sang ustadz yg telah lemah. Suara gemeretak tulang yg patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.

Laki² bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yg terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yg telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yg membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yg telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

"Ah ... sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini," suara hati Roberto bertanya-tanya.
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama buku itu.

Pemuda berumur tiga puluh tahunan itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan² "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yg telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yg dalam.
Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yg dialaminya sewaktu masih kanak². Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak²nya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.
Sore itu ia melihat peristiwa yg mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia).
Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.
Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia.
Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang² besi yg terpancang tinggi.
Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yg kencang, membuat pakaian muslimah yg dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup² pada tiang² salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki² mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yg telah senyap. Korban² kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yg terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yg sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya.

Sang bocah berkata dg suara parau, "Ummi ... ummi ... mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi ... Abi ... Abi ..."
Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai ... siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.
"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi," jawab sang bocah memohon belas kasih.
"Hah ... siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.
"Saya Ahmad Izzah ..." sang bocah kembali menjawab dg agak grogi.
Tiba² "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.
"Hai bocah ...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yg bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yg jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki² itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yg panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yg melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi ... Abi ... Abi ..."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Pikirannya terus bergelut dg masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yg ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yg dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.
Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusar.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yg amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yg sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..."
Hanya sebatas kata itu yg masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yg membasahi wajahnya.
Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yg tadi menyiksanya habis²an kini tengah memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yg telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..." terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dg buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dg susah payah masih bisa berucap, "Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dg Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu."

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dg berbekal kalimah indah, "Asyhadu an-laa Ilaaha illalloh, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullulloh ...'.
Beliau pergi menemui Rabbnya dg tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yg fana ini.

Kemudian..
Ahmad Izzah mendalami Islam dg sungguh² hingga akhirnya ia menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yg di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya. Dialah ... "Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy".
http://kenisah.blogspot.com

Monday, February 29, 2016

Nasehat Jokowi

Nasehat Jokowi kepada Ridwan Kamil menjelang pencalonan Ridwan Kamil maju jadi calon gubernur DKI.
Ini bukan nasehat kepada Jokowi sendiri lho ya.....
Xixixixi

"Nasehat Bijak" Jokowi buat Ridwan Kamil.


Pesan Presiden Joko Widodo kepada Walikota Bandung Ridwan Kamil terkait Pilgub DKI:

"Beliau bilang jangan semata-mata mau mengejar sesuatu yang lebih besar, namun yang di depan mata belum terselesaikan dengan baik," kata Ridwan Kamil menyampaikan soal pesan Jokowi, saat konferensi pers di Bandung, Senin (29/2). [Baca: Video Konpres Ridwan Kamil]

Dengan mengutip nasihat ini, secara halus Kang Emil membuka pandora kenaifan praktik kepemimpinan penguasa negeri ini: hilangnya rasa malu buat becermin.

Mungkin Presiden Joko Widodo sendiri lupa bahwa ada seorang pejabat tinggi negara memulai karir pemerintahannya sebagai Wali Kota. Belum menyelesaikan periodenya sebagai Wali Kota, dia malah maju di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta dengan sebuah keyakinan "KELIHATANNYA NGGAK SULIT-SULIT AMAT ATASI MACET DAN BANJIR JAKARTA". (http://www.rmol.co/read/2011/06/28/31483/Walikota-Solo:-Kelihatannya-Nggak-Sulit-sulit-Amat-Atasi-Macet-dan-Banjir-Jakarta-)

Belum dua tahun memimpin Jakarta, dia juga maju di Pemilihan Presiden 2014. Lagi-lagi dengan sebuah keyakinan "Macet dan Banjir Lebih Mudah Diatasi jika Jadi Presiden". (http://megapolitan.kompas.com/read/2014/03/24/1553111/Jokowi.Macet.dan.Banjir.Lebih.Mudah.Diatasi.jika.Jadi.Presiden)

Presiden Joko Widodo mungkin lupa bahwa sosok yang belum menyelesaikan amanah dengan baik itu adalah dirinya sendiri.

Begitupula dengan Ahok yang loncat sana sini tak selesaikan amanah:
- 2004 jadi anggota DPRD Beltim selama 1 tahun dari PIB
- 2005 jadi Bupati Beltim selama 15 bulan
- Desember 2006 berhenti dari pos Bupati Beltim, ikut Pilgub Babel dan kalah
- 2009 jadi anggota DPR dari Golkar
- 2012 jadi wakil gubernur DKI Jakarta dari Gerindra

Maka, sekali lagi, penuturan Ridwan Kamil yang mengutip "nasihat bijak" Jokowi justru merupakan pukulan telak buat kepemimpinan penguasa negeri ini: kutu loncat namun hilang rasa malu buat becermin.

"Jangan semata-mata mau mengejar sesuatu yang lebih besar, namun yang di depan mata belum terselesaikan dengan baik"  ....


http://kenisah.blogspot.com

Sunday, February 28, 2016

Dahlan Iskan tentang Gubernur NTB

Catatan Dahlan Iskan: Tuan Guru Dengan Masa Depan Yang Panjang

Inilah Gubernur Yang Berani Mengkritik Pers. Secara Terbuka. Di Puncak Acara Hari Pers Nasional Pula. Di Depan Hampir Semua Tokoh Pers Se Indonesia. Pun Di Depan Presiden Jokowi Segala. Di Lombok. Tanggal 9 Februari Lalu.

Inilah Gubernur Yang Kalau Mengkritik Tidak Membuat Sasarannya Terluka. Bahkan Tertawa-Tawa. Saking Mengena. Dan Lucunya.  "Yang Akan Saya Ceritakan Ini Tidak Terjadi Di Indonesia," Kata Sang Gubernur. "Ini Di Mesir."

Sang Gubernur Memang Pernah Bertahun-Tahun Sekolah Di Mesir. Di Universitas Paling Hebat Di Sana: Al Azhar. Bukan Hanya Paling Hebat, Tapi Juga Salah Satu Yang Tertua Di Dunia. Dari Al Azhar Pula Sang Gubernur Meraih Gelar Doktor. Untuk Ilmu Yang Sangat Sulit: Tafsir Al Quran. Inilah Satu-Satunya Kepala Pemerintahan Di Indonesia Yang Hafal Al Qur'an. Dengan Artinya, Dengan Maknanya Dan Dengan Tafsirnya.

Mesir Memang Mirip Indonesia. Di Bidang Politik. Dan Persnya. Pernah Lama Diperintah Secara Otoriter. Lalu Terjadi Reformasi. Bedanya: Demokrasi Di Indonesia Mengarah Ke Berhasil. Di Mesir Masih Sulit Ditafsirkan.

"Di Zaman Otoriter Dulu," Ujar Sang Gubernur Di Depan Puncak Peringatan Hari Pers Nasional Itu, "Tidak Ada Orang Yang Percaya Berita Koran." Gubernur Seperti Ingin  Mengingatkan Berita Koran Di Indonesia Di Zaman Presiden Soeharto. Sama. Tidak Bisa Dipercaya. Semua Berita Harus Sesuai Dengan Kehendak Penguasa.

"Satu-Satunya Berita Yang Masih Bisa Dipercaya Hanyalah Berita Yang Dimuat Di Halaman 10," Ujar Sang Gubernur. Di Halaman 10 Itulah, Katanya, Dimuat Iklan Duka Cita.

Gerrrrrrr. Semua Hadirin Tertawa.

Termasuk Presiden Jokowi. Tepuk Tangan Pun Membahana.

Bagaimana Setelah Reformasi? Ketika Pers Menjadi Terlalu Bebas?

"Masyarakat Mesir Malah Lebih Tidak Percaya," Katanya. "Semua Berita Memihak," Tambahnya. "Halaman 10 Pun Tidak Lagi Dipercaya," Guraunya.

Meski Hadirin Terbahak Lebih Lebar, Sang Gubernur Masih Perlu Klarifikasi. "Ini Bukan Di Indonesia Lho, Ini Di Mesir," Katanya. Hadirin Pun Kian Terpingkal. Semua Mafhum. Ini Bukan Di Mesir. Ini Di Indonesia. Juga.

Saya Mengenal Banyak Gubernur Yang Amat Santun. Semua Gubernur Di Papua Termasuk Yang Sangat Santun. Yang Dulu Maupun Yang Sekarang. Tapi Gubernur Yang Baru Mengkritik Pers Ini Luar Biasa Santunnya. Itulah Gubernur Nusa Tenggara Barat: Tuan Guru Dr. KH Zainul Majdi. Lebih Akrab Disebut Tuan Guru Bajang.

Gelar Tuan Guru Di Depan Namanya Mencerminkan Dia Bukan Orang Biasa. Dia Ulama Besar. Tokoh Agama Paling Terhormat Di Lombok. Sejak Dari Kakeknya. Sang Kakek Punya Nama Selangit. Termasuk Langit Arab: Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid. Di Mekah Sang Kakek Dihormati Sebagai Ulama Besar. Buku-Bukunya Terbit Dalam Bahasa Arab. Banyak Sekali. Di Mesir. Juga Di Libanon. Jadi Pegangan Bagi Orang Yang Belajar Agama Di Mekah.

Sang Kakek Adalah Pendiri Organisasi Keagamaan Terbesar Di Lombok: Nahdlatul Wathan (NW). Setengah Penduduk Lombok Adalah Warga NW. Di Lombok Tidak Ada NU. NU-Nya Ya NW Ini.

Kini Sang Cuculah Yang Jadi Pimpinan Puncak NW. Dengan Ribuan Madrasah Di Bawahnya.

Maka Di Zaman Demokrasi Ini Dengan Mudah Tuan Guru Bajang Terpilih Jadi Anggota DPR. Semula Dari Partai Bulan Bintang. Lalu Dari Partai Demokrat. Dengan Mudah Pula Ia Terpilih Jadi Gubernur NTB. Dan Terpilih Lagi. Untuk Periode Kedua Sekarang Ini.

Dengan Karirnya Itu Ia Memiliki Track Record Yang Komplit. Ulama Sekaligus Umaro'. Ahli Agama, Intelektual, Legislator, Birokrat, Dan Santun. Tutur Bahasanya Terstruktur. Pidatonya Selalu Berisi. Jalan Pikirannya Runtut.

Kelebihan Lain: Masih Muda: 43 Tahun. Ganteng. Berkulit Jernih.

Wajah Berseri. Murah Senyum. Masa Depannya Masih Panjang.

Pemahamannya Pada Rakyat Bawah Nyaris Sempurna.

"Bapak Presiden," Katanya Di Forum Tersebut, "Saya Mendengar Pemerintah Melalui Bulog Akan Membeli Jagung Impor 300.000 Ton Dengan Harga Rp 3000/Kg." Lalu Ini Inti Pemikirannya: "Kalau Saja Pemerintah Mau Membeli Jagung Hasil Petani NTB Dengan Harga Rp 3.000/Kg, Alangkah Sejahteranya Petani NTB." Selama Ini Petani Jagung Di Pusat Produksi Jagung Dompu, Sumbawa, NTB, Hanya Rp 2.000 Sampai Rp 2.500/Kg.

Sang Gubernur Kelihatannya Menguasai Ilmu Mantiq. Pelajaran Penting Waktu Saya Sekolah Di Madrasah Dulu.

Pemahamannya Pada Pentingnya Pariwisata Juga Tidak Kalah. "Lombok Ini Memiliki Apa Yang Dimiliki Bali, Tapi Bali Tidak Memiliki Apa Yang Dimiliki Lombok," Motto Barunya. Memang Segala Adat Bali Dipraktekkan Oleh Masuarakat Hindu Yang Tinggal Di Lombok Barat.

Demikian Juga Pemahamannya Tentang Vitalnya Infrastruktur. Dia Bangun Jalan By Pass Di Lombok. Juga Di Sumbawa. Dia Rencanakan Pula By Pass Baru Jalur Selatan. Kini Sang Gubernur Lagi Merancang Berdirinya Kota Baru. Kota Internasional. Di Lombok Utara.

Sebagai Gubernur, Tuan Guru Bajang  Sangat Mampu. Dan Modern. Sebagai Ulama Tian Guru Bajang Sulit Diungguli.

Inikah Sejarah Baru? Lahirnya Ulama Dengan Pemahaman Indonesia Yang Seutuhnya?

- See More At: Http://Batampos.Co.Id/Read/2016/02/22/35777/Catatan-Dahlan-Iskan-Tuan-Guru-Dengan-Masa-Depan-Yang-Panjang#Sthash.UblgCQzO.Dpuf